Pilu membelenggu
Raga terpaku tanpa aksara
Hanya sesak dan sembilu terasa
Senyap, hilang ditelan senja
Dulu kusangka dirinya adalah petaka
Sosok keji yang merangkulku secara paksa
Bunga tidur paling hina
Kuingin lepas,
Bebas dari jeratan takdir
Abai dengan harga yang harus kukorbankan
Tuan Pirau telah lama beranjak
Berderap pergi tanpa gema
Kupikir aku berkawan dengan sunyi
Ternyata aku justru benci lengang
Hilang semua cita
Tercerabut habis
Tersisa kelam membantai sanubari
Duhai, Tuan Pirau
Mengapa ini terasa begitu ganjil?
Resah kian merajai nurani
Gulana acap bertandang
Kala rindu itu memelukku erat
Duhai, Tuan Pirau
Semoga kau paham bahasa kalbuku
Aku,
Merindukanmu
Surabaya, 14 Mei 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar