Jantungku berdetak
selayaknya jarum jam berdetik
detik demi detik
menit demi menit
jam demi jam
tiada henti
Denganmu disampingku
berdebar jantungku
layaknya sebuah arloji
yang tidak menunjukkan waktunya secara presisi
membuat manusia, berlalu lalang tiada henti
kesana kesini, mencari arti
tanpa perduli kan jiwa yang lain
sulit bagi diriku
tuk lupakan dirimu
karena, layaknya jarum jam
yang menyimpan rahasia setiap detiknya
yang mustahil untuk dibongkar
rahasia tentangmu, tentang kita
5/15/2020
5/14/2020
𝙏 𝙪 𝙖 𝙣 𝙋 𝙞 𝙧 𝙖 𝙪
Pilu membelenggu
Raga terpaku tanpa aksara
Hanya sesak dan sembilu terasa
Senyap, hilang ditelan senja
Dulu kusangka dirinya adalah petaka
Sosok keji yang merangkulku secara paksa
Bunga tidur paling hina
Kuingin lepas,
Bebas dari jeratan takdir
Abai dengan harga yang harus kukorbankan
Tuan Pirau telah lama beranjak
Berderap pergi tanpa gema
Kupikir aku berkawan dengan sunyi
Ternyata aku justru benci lengang
Hilang semua cita
Tercerabut habis
Tersisa kelam membantai sanubari
Duhai, Tuan Pirau
Mengapa ini terasa begitu ganjil?
Resah kian merajai nurani
Gulana acap bertandang
Kala rindu itu memelukku erat
Duhai, Tuan Pirau
Semoga kau paham bahasa kalbuku
Aku,
Merindukanmu
Surabaya, 14 Mei 2020
Raga terpaku tanpa aksara
Hanya sesak dan sembilu terasa
Senyap, hilang ditelan senja
Dulu kusangka dirinya adalah petaka
Sosok keji yang merangkulku secara paksa
Bunga tidur paling hina
Kuingin lepas,
Bebas dari jeratan takdir
Abai dengan harga yang harus kukorbankan
Tuan Pirau telah lama beranjak
Berderap pergi tanpa gema
Kupikir aku berkawan dengan sunyi
Ternyata aku justru benci lengang
Hilang semua cita
Tercerabut habis
Tersisa kelam membantai sanubari
Duhai, Tuan Pirau
Mengapa ini terasa begitu ganjil?
Resah kian merajai nurani
Gulana acap bertandang
Kala rindu itu memelukku erat
Duhai, Tuan Pirau
Semoga kau paham bahasa kalbuku
Aku,
Merindukanmu
Surabaya, 14 Mei 2020
Selembar Surat Cinta
Selembar kertas terlepas dari genggaman
jatuh membentur permukaan air
setitik riak memercik
hinggap di ujung sepatuku
Lama ku pandang
selembar kertas itu perlahan hilang
beranjak pergi mengikuti takdirnya
terhanyut, hilang, entah kemana
Kalbu berbisik
mengucap perpisahan terasa kian pelik
biarlah, tak ingin lagi ku melihatnya
hanya membuat sesak, membelenggu jiwa
Kurelakan sepotong kertas itu pergi
menyimpul takdirnya sendiri
bibir menguntai kalimat perpisahan tanpa sajak
sepotong surat cintaku telah lelap tak berjejak
-nai✨
Ruang dan Waktu
Andai kau tahu,
andai kau paham,
bahwa dirimulah
yang bisa membuatku
tersenyum
Senyum manismu
dibalik empat matamu
yang candu nan selalu
buatku ikut tersenyum
Asal kau tahu,
bahwa dia hanya sebatas teman
dan bukan kekasihku
mungkin kau akan bersamaku
merangkul ruang dan waktu
andai kau paham,
bahwa dirimulah
yang bisa membuatku
tersenyum
Senyum manismu
dibalik empat matamu
yang candu nan selalu
buatku ikut tersenyum
Asal kau tahu,
bahwa dia hanya sebatas teman
dan bukan kekasihku
mungkin kau akan bersamaku
merangkul ruang dan waktu
5/12/2020
Jiwa
Mungkin ini bukan puisi pertama
mungkin, ini juga bukan puisi terakhir
mungkin, ini akan berujung menjadi cerita
mungkin, ini akan menjadi aksara penuh sihir
Sebuah jiwa
yang bisa berjanji
sesosok jiwa
yang juga bisa mengingkari
Sepasang jiwa
yang saling melengkapi
sepasang jiwa
yang saling mencintai
Sebuah kisah yang penuh misteri
tentang jiwa yang berjanji
kepada jiwa yang lain
untuk tetap berada disisi
Pagii...
Pagii...
untuk dirimu yang disana
mentari bersinar terang
hanya untukmu
Pagii...
untukmu jiwa yang sendu
untukmu insan yang syahdu
untukmu hati yang lugu
Pagii...
untukmu yang bermata sayu
kutulis aksara ini tanpamu disampingku
hanya berbekal wajahmu dalam akalku
Pagii...
ku ingin katakan ini
jika dirimulah pemilik hati ini
ku ingin kau tepati janji ini
berjanjilah untuk tetap disisi
untuk dirimu yang disana
mentari bersinar terang
hanya untukmu
Pagii...
untukmu jiwa yang sendu
untukmu insan yang syahdu
untukmu hati yang lugu
Pagii...
untukmu yang bermata sayu
kutulis aksara ini tanpamu disampingku
hanya berbekal wajahmu dalam akalku
Pagii...
ku ingin katakan ini
jika dirimulah pemilik hati ini
ku ingin kau tepati janji ini
berjanjilah untuk tetap disisi
5/11/2020
Kembali
Sekilas wajah kembali datang
seulas senyum kembali terbayang
selarik kata kembali terngiang
setitik air mata kembali terbuang
Wajah yang tidak berubah
senyum yang tidak berbeda
kata yang selalu sama
air mata dari mata yang sama pula
Mengapa begini?
mengapa harus aku?
yang tersiksa
tersiksa karena semua ini
Mengapa harus hal itu?
hal yang sialnya,
hanya dimiliki oleh dirimu
dirimu yang candu
Langganan:
Postingan (Atom)