9/20/2020

Senandika

Sebuah lukisan yang mulanya niskala, 
beranjak genap oleh kelindan peristiwa
Menyulut seharsa renjana, 
dirinya pernah ada dalam bingkai sejarah

Kidung itu pernah kita nyanyikan bersama
Lantas mengudara, 
terbang menuju payoda
Menyisakan kita yang terperai, 
terlunta-lunta dalam ruang hampa

Tak apa, 
setidaknya kita pernah bersama
Merangkul dan dirangkul asa, 
berdua mencipta mahligai rasa

Setidaknya dirinya nyata, 
meski terlampau rumit untuk kembali dijamah
Hanya pada hujan kuberani bercerita
Pada dersik angin kutitipkan salam rindu

Untukmu, 
yang kini terpisahkan oleh cakrawala

Surabaya, 20 September 2020
-Amira Herlambang✨

9/17/2020

Akara

Sesal terpatri dalam atma

Meratap pada fakta

Dirinya hanya imaji semata

Begitu sureal dan maya


Berhenti disitu, Tuan

Berhenti berlari di pikiranku


Saatnya episode melankolis ini berakhir

Bait-bait baru sudah menunggu

Penuh dengan cerita dan sukacita


Oh, dan sedikit derita




almost-midnight update! 

so, due to the absence of the creator of this blog (he’s in boarding school rn, fyi), I, as one of co-writers, initiate to fill this blog with my works. anw, this blog is kinda pathetic, right? 

-nai✨


5/15/2020

Clock's

Jantungku berdetak
selayaknya jarum jam berdetik
detik demi detik
menit demi menit
jam demi jam
tiada henti

Denganmu disampingku
berdebar jantungku
layaknya sebuah arloji
yang tidak menunjukkan waktunya secara presisi
membuat manusia, berlalu lalang tiada henti
kesana kesini, mencari arti
tanpa perduli kan jiwa yang lain

sulit bagi diriku
tuk lupakan dirimu
karena, layaknya jarum jam
yang menyimpan rahasia setiap detiknya
yang mustahil untuk dibongkar
rahasia tentangmu, tentang kita

5/14/2020

𝙏 𝙪 𝙖 𝙣 𝙋 𝙞 𝙧 𝙖 𝙪

Pilu membelenggu
Raga terpaku tanpa aksara
Hanya sesak dan sembilu terasa
Senyap, hilang ditelan senja

Dulu kusangka dirinya adalah petaka
Sosok keji yang merangkulku secara paksa
Bunga tidur paling hina
Kuingin lepas,
Bebas dari jeratan takdir
Abai dengan harga yang harus kukorbankan

Tuan Pirau telah lama beranjak
Berderap pergi tanpa gema
Kupikir aku berkawan dengan sunyi
Ternyata aku justru benci lengang
Hilang semua cita
Tercerabut habis
Tersisa kelam membantai sanubari

Duhai, Tuan Pirau
Mengapa ini terasa begitu ganjil?
Resah kian merajai nurani
Gulana acap bertandang
Kala rindu itu memelukku erat

Duhai, Tuan Pirau
Semoga kau paham bahasa kalbuku
Aku,
Merindukanmu


Surabaya, 14 Mei 2020

Selembar Surat Cinta

Selembar kertas terlepas dari genggaman
jatuh membentur permukaan air
setitik riak memercik
hinggap di ujung sepatuku

Lama ku pandang
selembar kertas itu perlahan hilang
beranjak pergi mengikuti takdirnya
terhanyut, hilang, entah kemana

Kalbu berbisik
mengucap perpisahan terasa kian pelik
biarlah, tak ingin lagi ku melihatnya
hanya membuat sesak, membelenggu jiwa

Kurelakan sepotong kertas itu pergi
menyimpul takdirnya sendiri
bibir menguntai kalimat perpisahan tanpa sajak
sepotong surat cintaku telah lelap tak berjejak


-nai✨

Ruang dan Waktu

Andai kau tahu,
andai kau paham,
bahwa dirimulah
yang bisa membuatku
tersenyum

Senyum manismu
dibalik empat matamu
yang candu nan selalu
buatku ikut tersenyum

Asal kau tahu,
bahwa dia hanya sebatas teman
dan bukan kekasihku
mungkin kau akan bersamaku
merangkul ruang dan waktu

5/12/2020

Jiwa

Mungkin ini bukan puisi pertama
mungkin, ini juga bukan puisi terakhir
mungkin, ini akan berujung menjadi cerita
mungkin, ini akan menjadi aksara penuh sihir

Sebuah jiwa
yang bisa berjanji
sesosok jiwa
yang juga bisa mengingkari

Sepasang jiwa
yang saling melengkapi
sepasang jiwa 
yang saling mencintai

Sebuah kisah yang penuh misteri
tentang jiwa yang berjanji
kepada jiwa yang lain
untuk tetap berada disisi